Kabupaten Brebes adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah,
Indonesia. Luas wilayahnya 1.657,73 km², jumlah penduduknya sekitar
1.732.719 jiwa (2010). Ibukotanya ada di Kecamatan Brebes. Brebes
merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk paling banyak di Jawa Tengah,
dan paling luas di Jawa Tengah ke-2 setelah Kabupaten Cilacap.
Sejarah
Sejarah Brebes Ada beberapa pendapat mengenai asal usul nama Brebes.
Salah satu pendapat menyatakan bahwa nama Brebes berasal dari kata
"Bara" dan "Basah", bara berarti hamparan tanah luas dan basah berarti
banyak mengandung air. Keduanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang
merupakan dataran luas yang berair. Karena perkataan bara di ucapkan
bere sedangkan basah di ucapkan besah maka untuk mudahnya di ucapkan
Brebes. Dalam Bahasa Jawa perkataan Brebes atau mbrebes berarti tansah
metu banyune yang berarti selalu keluar airnya. Nama Brebes muncul sejak
zaman Mataram. Kota ini berderet dengan kota-kota tepi pantai lainnya
seperti Pekalongan, Pemalang, dan Tegal. Brebes pada saat itu merupakan
bagian dari wilayah Kabupaten Tegal. Pada tanggal 17 Januari 1678 di
Jepara diadakan pertemuan Adipati Kerajaan Mataram se Jawa Tengah,
termasuk Arya Martalaya, Adipati Tegal dan Arya Martapura, Adipati
Jepara. Karena tidak setuju dengan acara penandatanganan naskah
kerjasama antara Amangkurat Admiral dengan Belanda terutama dalam
menumpas pemberontakan Trunajaya dengan imbalan tanah-tanah milik
Kerajaan Mataram, maka terjadi perang tanding antara kedua adipati
tersebut. Peristiwa berdarah ini merupakan awal mula terjadinya
Kabupaten Brebes dengan Bupati berwenang .Sehari setelah peristiwa
berdarah tersebut yaitu tanggal 18 Januari 1678, Sri Amangkurat II yang
berada di Jepara mengangkat beberapa Adipati/ Bupati sebagai pengagganti
Adipati-adipati yang gugur. Untuk kabupaten Brebes di jadikan kabupaten
mandiri dengan adipati Arya Suralaya yang merupakan adik dari Arya
Martalaya. Pengangkatan Arya Suralaya sekaligus titimangsa pemecahan
Kadipaten Tegal menjadi dua bagian yaitu Timur tetap disebut Kadipaten
Tegal dan bagian barat di sebut Kabupaten Brebes.
Geografi
Peta Administrasi Provinsi Jawa Tengah Peta Wilayah Banyumasan
Kabupaten Brebes terletak di bagian Utara paling Barat Provinsi Jawa
Tengah, di antara koordinat 108° 41'37,7" - 109° 11'28,92" Bujur Timur
dan 6° 44'56'5" - 7° 20'51,48 Lintang Selatan dan berbatasan langsung
dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. Penduduk Kabupaten Brebes mayoritas
menggunakan bahasa Jawa yang yang mempunyai ciri khas yang tidak
dimiliki oleh daerah lain, biasanya disebut dengan Bahasa Jawa Brebes.
Namun terdapat Kenyataan pula bahwa sebagian penduduk Kabupaten Brebes
juga bertutur dalam bahasa Sunda dan banyak nama tempat yang dinamai
dengan bahasa Sunda menunjukan bahwa pada masa lalu wilayah ini adalah
bagian dari wilayah Sunda. Daerah yang masyarakatnya sebagian besar
menggunakan bahasa Sunda atau biasa disebut dengan Bahasa Sunda Brebes,
adalah meliputi Kecamatan Salem,Banjarharjo,dan Bantarkawung, dan
sebagian lagi ada di beberapa desa di Kecamatan
Losari,Tanjung,Kersana,Ketanggungan dan Larangan. Berdasarkan naskah
kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Prabu
Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi
tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan Bali pada awal abad
ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford
University, Inggris sejak tahun 1627, batas Kerajaan Sunda di sebelah
timur adalah Ci Pamali (sekarang disebut sebagai Kali Brebes atau Kali
Pemali yang melintasi pusat kota Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini
disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah. Ibukota kabupaten Brebes
terletak di bagian timur laut wilayah kabupaten. Kota Brebes
bersebelahan dengan Kota Tegal, sehingga kedua kota ini dapat dikatakan
"menyatu". Brebes merupakan kabupaten yang cukup luas di Provinsi Jawa
Tengah. Sebagian besar wilayahnya adalah dataran rendah. Bagian barat
daya merupakan dataran tinggi (dengan puncaknya Gunung Pojoktiga dan
Gunung Kumbang), sedangkan bagian tenggara terdapat pegunungan yang
merupakan bagian dari Gunung Slamet. Dengan iklim tropis, curah hujan
rata-rata 18,94 mm per bulan. Kondisi itu menjadikan kawasan tesebut
sangat potensial untuk pengembangan produk pertanian seperti tanaman
padi, hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan dan sebagainya







































Tidak ada komentar:
Posting Komentar